Ini kabar terbaru tentang penggajian di Indonesia. Setelah kebijakan sertifikasi guru, kesejahteraan para guru meningkat pesat. Untuk guru di Serang dan DKI bahkan gajinya bisa 5 sampai 8 juta per bulan.
Beberapa waktu lalu, sejumlah perusahaan masih menggaji fresh graduate di level 2-3 juta tiap bulannya. Sementara gaji profesor di perguruan tinggi kabarnya hanya 5,6 juta (UI kemudian membatah kalo gaji dosen dan penelitinya sebesar itu).
Jadi, sekarang lebih enak ya jadi guru?
Gaji Peneliti UI Tembus 38 Juta
Gaji peneliti Indonesia yang disebut-sebut sangat minim dibandingkan negara tetangga seperti Malaysia tampaknya tidak sepenuhnya benar. Sebab, kemarin Universitas Indonesia (UI) melansir besaran gaji peneliti yang ada di kampus tersebut. Ternyata, jauh lebih banyak dari yang disebut-sebut selama ini.
Rektor UI Gumilar R Soemantri kemarin tidak sepakat jika gaji peneliti digeneralisir rendah. Dia lantas menggambarkan untuk dosen inti yang melakukan penelitian gaji minimalnya Rp 19 juta dan gaji dosen terendah Rp 9 juta. “Untuk nominal maksimal peneliti inti mencapai Rp 38 juta,” ujarnya di Foodism FX Plaza Jakarta.
Lebih lanjut dia membuka data, gaji untuk dosen juga cukup tinggi karena bisa menembus angka 19 juta maksimalnya. Namun, pendapatan tinggi tersebut dibarengi dengan tugas yang tidak gampang juga. “Untuk peneliti inti, harus mampu membuat jurnal Internasional dan menerbitkan buku,” imbuhnya.
Angka yang diungkap Soemantri tentu jomplang dengan ungkapan Ketua Umum Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Muhammad Said Didu. Ramai diberitakan, dia menyebut jika gaji seorang profesor riset di Indonesia hanya Rp 5,2 juta per bulan. “Kalah dengan gaji guru SD di Serang yang mencapai Rp 6,5 juta atau di Jakarta Rp 8,6 juta,” katanya.
Tidak hanya itu, dia juga menyebut gap gaji makin lebar jika dibandingkan dengan negara lain. Sebagai contoh, gaji dinegara tetangga seperti Malaysia atau Singapura bisa menembus Rp 90 juta dan di Jepang hingga 900 juta per bulan. Kembali ke UI, Soemantri mengatakan gaji tersebut untuk “menghabiskan” dana riset yang mencapai Rp 118 miliar per tahun. Termasuk riset kompetitif yang besarannya mencapai Rp 30 miliar. Tingkat kesejahteraan dan dana riset yang tinggi dia klaim mampu meningkatkan persaingan diantara pengajar.
Dibuktikan dengan banyaknya proposal penelitian yang mampir dimejanya untuk disetujui. Kalau dibawah 2007 sebelum ada penataan administrasi jumlah proposal hanya sekitar seratus, kini mencapai seribuan berkas. “Mulai paket penelitian yang dananya Rp 100 juta hingga Rp 1 miliar diperebutkan dengan baik,” tandasnya. Efeknya, menurut Soemantri cukup positif. Sebab, semua itu merangsang para peneliti untuk menghasilkan karya lebih banyak.
Bahkan, saat ini UI memiliki sedikitnya 2 ribu penelitian yang dipatenkan. Sayang, dari jumlah tersebut menurutnya yang sudah diterapkan ke dunia industry hanya 20 persennya. Meski demikian, dia mengamini jika rata-rata pendapatan peneliti di Indonesia masih minim. Apalagi, anggaran riset di Indonesia hanya berkisar 0,01 persen dari total Produk Domestik Brutto (PDB).
Anggaran itu diyakini tidak akan mampu menciptakan iklim akademik yang penuh inovasi dan kreativitas. Terpisah, di UGM Jogjakarta, Ketua Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Umar Anggara Jenie mengatakan jika anggaran penelitian masih rendah. Jadi, bukan masalah kesejahteraan saja yang menurutnya harus diperbaiki.
Sebab, saat ini anggaran penelitian hanya sekitar Rp 50 juta kebawah. Idelanya, anggaran penelitian sedikitnya bisa mencapai Rp 300 juta. Minimnya dana menurutnya bisa berakibat pada munculnya hasil penelitian yang kurang layak paten. Ujung-ujungnya, Indonesia bisa makin tertinggal oleh negara lain.
“Karena itu, hingga kini Indonesia masih ketergantungan dengan hasil penelitian bioteknologi Negara maju,” tuturnya
Sumber: JPNN






Pingback: Peneliti Tidak Pantas Hidup Miskin « MyFamily Accounting